24/02/2026
IMG-20260127-WA0024

ARTIKEL : Dr. Savri Yansah, M.ag

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan hiduplah seorang anak bernama Sapriansyah. Rumahnya sangat sederhana bisa dibilang pondok kayu berdinding papan, berlantai tanah dan beratap seng berlubang yang selalu bocor saat hujan turun. Dari situlah perjalanan panjang menuju impian itu dimulai.

Kedua orangtua Sapriansyah hanyalah pekerja kasar, yaitu sebagai buruh tani. Bagi sebagian besar orang, masa depan Sapriansyah seolah sudah tertulis: *lulus sekolah seadanya, lalu bekerja seperti orang tuanya.

Namun Sapriansyah punya satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang yakni rasa ingin tahu yang besar.

Setiap malam setelah membantu ayahnya di kebun, Sapriansyah duduk di bawah lampu minyak sambil membaca buku-buku bekas yang ia pinjam dari guru SD-nya. Bukunya tak selalu lengkap, beberapa halaman hilang tapi baginya setiap kata adalah jendela ke dunia yang lebih luas. Disaat teman-temannya bermain, Sapriansyah lebih memilih belajar bukan karena terpaksa, tetapi karena ia percaya ada kehidupan lain yang bisa ia raih.

Saat Sapriansyah lulus SD, orang tuanya ragu menyekolahkannya ke SMP yang jaraknya jauh. Biaya transport dan buku terasa mustahil. Sapriansyah hampir menyerah, sampai suatu malam ibunya berkata,
“kalau kamu mau belajar sungguh-sungguh, Ibu dan Bapak akan berusaha.”
Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar perjuangannya.

Sapriansyah naik angkutan umum hampir lima kilometer setiap hari ke sekolah untuk menuntut ilmu. Nilainya selalu bagus. Guru-gurunya melihat sesuatu yang istimewa: bukan tentang kepintaran, tapi ketekunan.

Saat SMA, Sapriansyah mendapatkan beasiswa dari SMA Lab Pembangunan Universitas Negeri Padang. Untuk pertama kalinya, ia merasa takdirnya mulai bergeser. Ia mengenal komputer, perpustakaan besar, dan mimpi-mimpi yang dulu hanya ada di buku. Ia belajar bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk membuktikan bahwa “latar belakang bukanlah penghalang”.

Perjuangan terberat datang saat ia diterima di Universitas Negeri ternama di Nagari Minangkabau. Biaya hidup di kota besar jauh lebih mahal. Sapriansyah hampir menolak kesempatan itu, sampai seorang gurunya berkata,
“Takdir tidak berubah dalam sehari, tapi keberanianmu hari ini menentukan hidupmu nanti.”

Sapriansyah pun berangkat dengan satu tekad yang besar. Mimpi menjadi seorang Sarjana-pun terwujud. Setahun setelah selesai S1 ia pun melanjutkan S2 di Kota Bengkulu didampingi istri tercinta. Ia bekerja paruh waktu disela kesibukannya kuliah. Malam menjadi satpam, siang berjualan kerupuk keliling, berjualan es di pasar bahkan sering tidur hanya tiga jam demi mengejar nilai dan pekerjaan. Lelah? Pasti. Ingin menyerah? Berkali-kali. Tapi setiap kali itu terjadi, ia teringat wajah orang tua dan keluarga juga desa kecil tempat ia dibesarkan.

Bertahun-tahun meninggalkan desa, Sapriansyah akhirnya kembali ke desanya—bukan sebagai anak buruh tani, melainkan sebagai seorang pendidik. Pernah satu kali ia membuat kegiatan Pesantren Kilat di bulan Ramadhan untuk anak-anak desa. Ia ingin mereka tahu satu hal penting:
takdir bukan sesuatu yang diterima tetapi sesuatu yang diperjuangkan.

Pendidikan tidak langsung mengubah hidup Sapriansyah menjadi mudah. Tetapi pendidikan memberinya pilihan, keberanian, dan harapan. Dari sanalah takdirnya benar-benar berubah.

Ditulis oleh : Dr. Savri Yansah, M.ag