Karya: Rido Amilin
Pagi itu, udara di selasar pengadilan terasa lebih berat, seolah-olah semen dan pualam bangunannya pun telah jenuh menanggung beban kebohongan. Kapten KK berdiri di depan pintu besar bercat mahoni, tangannya menggenggam bundel dokumen yang ujungnya sedikit lecek—sebuah memori banding yang ia susun dengan sisa-sisa harapan. Di sampingnya, Kapten Ula Lidi terus mengamati sekitar dengan mata yang waspada, sementara Kapten Biri-Biri hanya terdiam, memilin bulu halusnya dengan raut muka yang menyimpan kecemasan mendalam.
”Ini adalah pertaruhan terakhir,” desis Kapten KK. Ia melangkah maju, menyerahkan dokumen itu kepada panitera dengan penekanan yang menggetarkan meja kayu di depannya. “Kami mengajukan banding bukan karena dendam, melainkan karena keadilan tidak boleh dibiarkan membusuk dalam rasa manis yang palsu. Ini adalah gugatan atas nama integritas laut dan darat!” Namun, panitera itu hanya melirik sekilas, lalu membubuhkan stempel dengan bunyi debum yang terdengar seperti vonis mati sebelum perang dimulai.
Suasana di dalam ruang sidang segera berubah menjadi palagan metafisika yang pengap. Kapten KK menghadirkan Dukun Taluguh Umbul, seorang lelaki tua yang membawa aroma garam laut yang jujur dan keras. Dengan satu gerakan tangan yang membelah udara, Taluguh Umbul merapal mantera kuno yang membuat ikan asin di atas meja hijau itu tiba-tiba menggelepar. Keajaiban terjadi; ikan itu membuka mulutnya yang kering dan mengeluarkan suara parau yang menggigil. “Aku asin… aku adalah keringat nelayan… aku adalah air mata samudera…” suara itu merayap ke seluruh penjuru ruangan, membuat bulu kuduk para kucing penjaga berdiri. Kapten KK menoleh pada Hakim dengan tatapan kemenangan, meyakini bahwa kesaksian langsung dari sang benda adalah bukti yang tak terbantahkan.
Namun, di kursi seberang, Bos Tikus Mata Sipit hanya menyandarkan punggungnya dengan angkuh sembari mengelus perut buncitnya. Ia menjentikkan jari, dan muncullah Dukun Perikan Manisan yang berpakaian necis dengan aroma karamel yang menyengat. Dengan seringai licik, dukun itu meniupkan asap wangi melati ke arah barisan ikan asin di meja bukti sembari berstasbeeh mantra yang memabukkan nalar. Seketika, ikan-ikan itu tidak lagi menggelepar kesakitan. Mereka justru tampak tenang, seolah-olah baru saja menelan candu yang nikmat. Bersama-sama, kelompok ikan itu mulai bernyanyi dalam harmoni yang ganjil, suara mereka kini berubah menjadi halus dan mendayu. “Kami lelah menjadi asin… kami telah bertobat… kami ditakdirkan lahir kembali sebagai manisan demi kemuliaan perut penguasa,” racau ikan-ikan itu secara serempak. Sihir dari pihak tikus telah memutarbalikkan kodrat alam; kebenaran dipaksa mengaku sebagai dusta demi kenyamanan bersama.
Puncaknya terjadi ketika Hakim mulai menunjukkan gelagat aneh. Ia tak lagi menyimak pasal, melainkan sibuk mengecap bibirnya sendiri yang basah karena liur yang menderas. “Yang Mulia! Lihatlah bagaimana mantera mereka memperkosa kenyataan! Ikan itu bicara di bawah tekanan sihir!” teriak Kapten KK dengan urat leher yang menegang. Namun, Hakim hanya menatapnya dengan mata yang sayu namun penuh lemak suap. Di bawah meja, sebuah keranjang mewah tersodor diam-diam—Ikan Salmon yang dikirim lewat pintu belakang, disajikan dalam bentuk bekasam yang aromanya sanggup meruntuhkan iman paling teguh sekalipun. “Keadilan itu cair, Kapten,” ujar Hakim dengan suara berat yang tersumbat lemak ikan. “Jika ikan itu sendiri mengaku telah menjadi manis, siapa kita yang berani membantah takdir?” Palu diketuk dengan suara lirih yang terdengar lebih menyakitkan daripada ledakan meriam.
Selasar pengadilan yang sunyi itu seketika pecah oleh perdebatan sengit setelah sidang usai. “Kita terlalu lurus, KK! Hukum tidak bisa dihadapi dengan kejujuran yang telanjang di depan hakim yang sudah memakai jubah dari kain sutra para tikus!” teriak Kapten Ula Lidi. Kapten Biri-Biri menyela dengan suara parau, “Dukun Taluguh Umbul sudah melakukan bagiannya, tapi bagaimana bisa kita menang melawan sihir yang dibungkus dengan janji kemewahan?”
Di tengah keputusasaan itu, seekor Tungau kecil dengan warna tubuh hijau kuning kelabu muncul dari celah ubin pualam. Ia melompat ke pundak Kapten KK dengan napas tersengal-sengal. “Kapten! Di dalam sana, mereka sedang berpesta! Hakim, Bos Tikus Mata Sipit, dan para dukun itu tertawa terbahak-bahak menyantap salmon impor. Dan di sudut ruangan, tumpukan tas kulit berisi ikan asin bukti kita dibagi-bagi seolah harta jarahan!”
Kapten KK tertegun, kepalanya terasa pening oleh telanjangnya pengkhianatan itu. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang gedung yang dingin. “Aku sudah tidak percaya lagi pada keadaan yang selalu mendesak kita untuk bersabar,” gumamnya getir. “Apakah keadilan memang hanya mitos agar si miskin tidak cepat-cepat mengamuk?” Ia menghela napas panjang, teringat pada bait-bait yang sering dibisikkan para leluhurnya:
Di atas meja pualam yang licin dan bersih,
Nasib si miskin berakhir dengan rintih,
Kebenaran dijual dalam bakul yang amis,
Diterjang emas, ia pun tunduk dan menangis.
Telah tertulis dalam kitab-kitab yang usang,
Bahwa yang kecil akan selalu terbuang,
Seperti ikan teri di tengah pesta salmon yang garang,
Hukum hanyalah jerat bagi mereka yang tak punya uang.
”Kekalahan kita,” lanjut Kapten KK, “bukan karena kita salah, tapi karena kita lahir di sisi sejarah yang tidak memiliki pelindung. Kita hanyalah baris-baris dalam syair lama tentang kekalahan yang abadi.” Ia meludah ke lantai pualam yang bersih, merasakan pahit yang luar biasa di lidahnya, sementara di dalam sana, tawa para pemenang masih terdengar sangat manis.
Kampyoya Altar, 22 Masehi.
