27/07/2026
IMG-20260726-WA0010


​MUREXS.COM, MURATARA — Ada yang berbeda dari denyut nadi Lapangan Silampari pada malam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Musi Rawas Utara. Ruang terbuka itu tak sekadar dipenuhi ingar-bingar perayaan seremonial, melainkan menjelma menjadi ruang perjumpaan kultural. Masyarakat tumpah ruah memenuhi setiap sudut lapangan, terhanyut dalam semarak layar tancap yang menayangkan film Kecak Palak, sebuah persembahan kolaboratif antara CLASICLIMPO Art Productions dan Dinas Pendidikan setempat.

Di tengah gegap gempita dan antusiasme warga yang membeludak, Rido Amilin selaku Pimpinan CLASICLIMPO Art Productions menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas dukungan berbagai pihak yang menyukseskan gelaran kebudayaan ini.

“Kesuksesan pada malam ini tidak lepas dari sinergi kita bersama. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Kelurahan Muara Rupit, Camat Kecamatan Rupit Bapak Febri Mashudi Pranata, S.E. beserta Ibu PKK Kecamatan Rupit, dan tentunya rasa hormat tertinggi untuk seluruh masyarakat Muratara yang telah luar biasa memenuhi Lapangan Silampari pada malam ini,” ungkap Rido di hadapan lautan penonton yang memadati lokasi. Minggu (26/7/2026.


​Lebih jauh, ia memaknai momentum ini lebih dari sekadar tontonan hiburan. Baginya, layar sinema adalah medium pewarisan nilai. “Kebudayaan adalah sebuah ruang publik yang tentunya berhak dinikmati oleh semua orang. Di ruang inilah orang-orang berkumpul, bergembira, dan merayakan identitasnya,” tuturnya.

Ia juga menyentuh aspek psikologis dari sebuah karya seni visual. “Setiap manusia memiliki ruang-ruang tersendiri dalam menyimpan memori emosionalnya, tentang kenangan-kenangan masa lalu. Sentuhan emosional itu, salah satunya, akan sangat kental terasa pada kisah Bujang Kurap,” tambahnya.

​Sebagai seorang guru sekaligus pegiat seni, Rido menegaskan komitmen organisasinya. Ke depannya, CLASICLIMPO Art Productions akan terus berdiri di garda terdepan dalam upaya pelestarian budaya lokal.

“Kami akan terus berbuat untuk masyarakat agar kebudayaan ini tetap tumbuh, hidup, dan pada akhirnya, membentuk kita menjadi manusia Melayu seutuhnya,” tegasnya, disambut riuh tepuk tangan warga yang menggema di udara malam.

Visi besar dalam pelestarian budaya ini nyatanya tidak berjalan sendirian. Gayung bersambut dari ranah birokrasi. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas Utara, yang turut hadir dalam kemeriahan tersebut, menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah terhadap ekosistem kreatif, khususnya yang lahir dari rahim para pendidik.

“Dinas Pendidikan selalu dan akan terus mendukung karya-karya terbaik, terlebih yang diinisiasi oleh para guru serta seluruh stakeholder pendidikan di wilayah kita,” ujar Kepala Dinas Pendidikan.

Dukungan tersebut dibuktikan dengan langkah nyata. Secara eksklusif, ia membocorkan langkah strategis berikutnya yang telah disepakati bersama.

“Melihat antusiasme malam ini, kami telah berkoordinasi secara intensif dengan Bapak Rido Amilin dan tim CLASICLIMPO Art Productions. Kami pastikan, proyek besar selanjutnya setelah ini adalah penggarapan film Bujang Kurap,” pungkasnya.

​Malam di Lapangan Silampari perlahan beranjak larut, namun gairah kebudayaan di Musi Rawas Utara justru baru saja dihidupkan kembali. Dari Kecak Palak, masyarakat kini menanti lahirnya Bujang Kurap—sebuah janji sinematik untuk merawat ingatan dan marwah Melayu di tanah Muratara. (JBM/PERS)