MUSI BANYUASIN — Pergantian pucuk pimpinan Polres Musi Banyuasin (Muba) disambut aksi simbolis oleh gabungan LSM, ormas, aktivis, dan insan pers di Kabupaten Muba. Mereka menggelar acara potong bebek sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menyampaikan harapan terhadap kepemimpinan Kapolres Muba yang baru.
Mutasi AKBP Ruri Prastowo, S.I.K., M.I.K. dari jabatan Kapolres Muba dinilai menjadi momentum untuk menghadirkan suasana baru dalam penegakan hukum serta meningkatkan komunikasi antara kepolisian dengan masyarakat, LSM, ormas, dan insan pers.
Bagi para peserta, potong bebek tersebut bukan sekadar acara syukuran, tetapi juga simbol berakhirnya satu masa kepemimpinan dan harapan lahirnya era baru dalam penanganan berbagai persoalan hukum di Bumi Serasan Sekate.
Ketua Umum LSM POSE RI, Desri Nago, SH, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi masyarakat atas pergantian Kapolres Muba.
“Kami bersyukur atas pergantian Kapolres Muba. Potong bebek ini menjadi simbol bahwa telah berakhir satu masa dan kami berharap lahir era baru dalam penegakan hukum di Kabupaten Muba,” ujar Desri.
Menurutnya, sejumlah persoalan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat perlu menjadi bahan evaluasi bagi Kapolres Muba yang baru, AKBP Adik Listiyono, S.I.K., M.H.
“Kami berharap Kapolres yang baru tidak mewarisi persoalan yang sama. Berbagai kasus yang menjadi perhatian publik harus dibuka dan dituntaskan secara profesional sesuai aturan hukum,” tegasnya.
Senada, Ketua DPD Ormas Barikade 98 Muba, Boni, mengaku berharap pergantian Kapolres dapat membawa perubahan positif dalam penegakan hukum.
“Kami berharap Kapolres yang baru benar-benar membawa perubahan dan memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” katanya.
Boni juga menyoroti persoalan aktivitas minyak ilegal serta sejumlah kasus kebakaran yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut.
“Kalau memang ada aktivitas ilegal, kami berharap penanganannya dilakukan secara menyeluruh. Jangan hanya pekerja di lapangan yang ditindak, tetapi siapa pun yang terbukti terlibat harus diproses sesuai hukum,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua AWDI Muba, Darul Kutni, mengatakan aksi potong bebek tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus harapan terhadap kepemimpinan baru Polres Muba.
“Kami berharap Kapolres baru bisa membangun komunikasi yang lebih baik dengan insan pers, LSM, ormas, dan masyarakat,” ungkap Darul.
Ia berharap kritik yang disampaikan masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi bagi institusi kepolisian.
“Kami ingin ke depan komunikasi lebih terbuka. Kalau ada persoalan, masyarakat dan pers bisa menyampaikan kritik dan mendapatkan penjelasan yang jelas,” katanya.
Ketua Akpersi Muba, Warto, juga menyampaikan harapan serupa.
“Kami berharap ini menjadi awal yang baru bagi Polres Muba. Kapolres baru diharapkan dapat bekerja secara profesional, transparan, dan terbuka terhadap masyarakat maupun insan pers,” ujar Warto.
Sorotan Kasus Minyak Ilegal
Sejumlah kasus yang disebut peserta aksi masih membutuhkan perhatian, di antaranya rentetan kebakaran yang berkaitan dengan aktivitas minyak ilegal.
Salah satunya kebakaran penampungan minyak dan sumur minyak ilegal di Desa Keban I, Kecamatan Sanga Desa, pada 12 Juni 2026 sekitar pukul 16.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang warga bernama Herdik mengalami luka.
Kemudian, kebakaran penyulingan minyak ilegal di Pal 6, Desa Bangun Sari, Kecamatan Babat Toman, pada 8 Juni 2026.
Kebakaran sumur minyak ilegal di Desa Keban I pada 25 Juni 2026 serta kebakaran penyulingan minyak ilegal di Pal 6, Desa Bangun Sari, pada 26 Juni 2026 juga menjadi perhatian peserta aksi.
Selanjutnya, pada 28 Juli 2026, Polsek Sanga Desa melakukan penindakan terhadap tiga lokasi penyulingan minyak mentah ilegal di Dusun VII, Desa Keban I.
Dalam penindakan tersebut, delapan orang diamankan. Polisi juga menyita sejumlah peralatan penyulingan serta puluhan ribu liter minyak hasil olahan.
Dari tiga lokasi tersebut, polisi menyebut pemiliknya masing-masing berinisial AZ, MZ, dan LS. Ketiganya disebut berstatus daftar pencarian orang (DPO).
Para aktivis, LSM, ormas, dan insan pers yang mengikuti aksi berharap Kapolres Muba yang baru dapat melakukan evaluasi terhadap berbagai persoalan tersebut serta memberikan kepastian hukum terhadap kasus-kasus yang menjadi perhatian masyarakat.
Aksi Serupa Pernah Digelar di Banyuasin
Aksi potong bebek sebagai simbol rasa syukur atas pergantian Kapolres sebelumnya juga pernah dilakukan insan pers di Kabupaten Banyuasin.
Saat AKBP Ruri Prastowo berpindah dari jabatan Kapolres Banyuasin dan digantikan AKBP Risnan Aldino, S.I.K., M.Si., insan pers Banyuasin menggelar acara syukuran dengan memotong dua ekor ayam jago di salah satu lokasi kuliner di Banyuasin, Rabu, 7 Januari 2026.
Acara tersebut dihadiri puluhan wartawan dari berbagai organisasi pers di Banyuasin. Kegiatan berlangsung sederhana dan dimaknai sebagai simbol harapan agar komunikasi antara kepolisian dan insan pers ke depan dapat terjalin lebih terbuka dan harmonis.
Kini, aksi dengan semangat serupa kembali digelar di Muba. Para peserta berharap pergantian pimpinan Polres Muba menjadi momentum lahirnya kepemimpinan baru yang mampu menjawab berbagai persoalan hukum sekaligus membangun hubungan yang lebih baik dengan seluruh elemen masyarakat.
Berbagai kritik dan penilaian yang disampaikan dalam aksi tersebut merupakan pandangan dari peserta kegiatan dan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan langsung dari AKBP Ruri Prastowo terkait pernyataan para peserta aksi tersebut. (*)
