Murexs.com, PALEMBANG — Ikatan Mahasiswa Empat Lawang (IMEL) Palembang bersama Aliansi Organisasi Mahasiswa Daerah Sumatera Selatan (Arogans) menggelar aksi demonstrasi di Gedung Gubernur Sumatera Selatan, Kamis (08/10/26).
Aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Dalam aksi itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Salah satu tuntutan utama yakni meminta Pemprov Sumsel menyediakan sedikitnya 10 unit helikopter untuk mendukung upaya pemadaman karhutla.

Menurut massa aksi, penambahan armada udara diperlukan untuk mempercepat penanganan titik api, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dengan dukungan helikopter, proses pemadaman dari udara diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan menjangkau lokasi kebakaran yang berada di kawasan sulit diakses.
Selain meminta penambahan armada pemadam, mahasiswa juga mendorong agar status bencana karhutla di Sumatera Selatan ditingkatkan menjadi bencana nasional.
Tuntutan tersebut disampaikan agar penanganan karhutla dan dampak kabut asap memperoleh perhatian serta dukungan yang lebih besar, termasuk melalui penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Mahasiswa menilai persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap masyarakat, lingkungan, serta aktivitas sehari-hari.
Kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kualitas udara dan kenyamanan masyarakat.
Karena itu, IMEL Palembang bersama Arogans meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi.
Mereka juga mendorong penguatan langkah pencegahan, pengawasan, serta pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang dinilai rawan terjadi karhutla.
Massa aksi berharap tuntutan yang disampaikan di hadapan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret.
Mereka juga mendorong peningkatan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta pihak terkait lainnya dalam menghadapi persoalan karhutla dan kabut asap di Sumatera Selatan.
Aksi di Gedung Gubernur Sumatera Selatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi terkait penanganan karhutla.
Melalui tuntutan penyediaan minimal 10 unit helikopter dan dorongan peningkatan status bencana menjadi bencana nasional, mahasiswa meminta penanganan karhutla dilakukan secara lebih terkoordinasi, terukur, serta disertai langkah pencegahan yang berkelanjutan. (Nanda)
