PALEMBANG, MUREXS.COM – Universitas Aisyiyah (UNISA) Palembang melalui Program Studi S1 Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan berkualitas dengan menyelenggarakan kegiatan Kuliah Pakar. Acara yang berlangsung meriah di Aula Universitas Aisyiyah Palembang Rabu (10/06/2026), dihadiri oleh puluhan mahasiswi yang tengah dipersiapkan menjadi garda terdepan kesehatan ibu dan anak.
Acara akademik ini diawali dengan prosesi pembukaan yang dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Aisyiyah Palembang, Khoirin, SKM., M.Kes. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian laporan oleh Ketua Program Studi S1 Kebidanan sekaligus Ketua Panitia, Wita Solama, SST., M.Kes. Puncak acara pembukaan ditandai dengan sambutan sekaligus peresmian kegiatan secara simbolis oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi UNISA Palembang, Ns. Miming Oxyandi, M.Kes., M.Kep., Ph.D.
Kegiatan yang merupakan bagian dari penguatan mata kuliah Dasar Kesehatan Reproduksi dan Keluarga ini diikuti oleh 78 peserta, yang terdiri dari mahasiswi program studi S1 Kebidanan, Pendidikan Profesi Bidan, serta D3 Kebidanan. Tujuan utamanya adalah memperluas wawasan mahasiswa mengenai isu-isu kesehatan reproduksi secara komprehensif, aktual, dan aplikatif langsung dari pakarnya.

Menghadirkan pakar dari dinas terkait guna memberikan perspektif praktis di lapangan, UNISA Palembang menghadirkan Candra Kurniadi, S.Kom., M.Si. selaku Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga pada Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Palembang. Sebagaimana diketahui dari dinamika kelembagaan saat ini, instansi yang mengelola urusan keluarga berencana di tingkat wilayah (yang sebelumnya identik dengan BKKBN) kini secara administratif berstatus sebagai Dinas.
Mengangkat tema krusial yakni “The Golden Period of Preconception: Strategi Skrining Kesehatan Pranikah untuk Melahirkan Generasi Bebas Stunting”, pemaparan difokuskan pada langkah preventif sebelum kehamilan. Candra membedah secara rinci bahwa stunting gangguan pertumbuhan akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang harus dicegah jauh hari sebelum pembuahan terjadi.
Kualitas Anak Ditentukan Sebelum Konsepsi “Kualitas kesehatan anak dimulai sebelum konsepsi,” tegas Candra dalam materinya, meluruskan anggapan umum yang mengira pencegahan stunting baru dimulai saat bayi lahir.
Ia menjelaskan bahwa perempuan yang kurang gizi berisiko tinggi melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang akan melanggengkan siklus stunting antargenerasi. Oleh karena itu, persiapan di fase Golden Period (Prekonsepsi), yakni 3 hingga 6 bulan sebelum kehamilan, sangatlah krusial. Persiapan ini mencakup tiga pilar utama: Persiapan Biologis (Fisik):
Memastikan tubuh siap mendukung kehamilan. Langkah ini meliputi pemeriksaan status gizi, mencapai Indeks Massa Tubuh (IMT) ideal, skrining penyakit menular (seperti HIV dan Hepatitis B), hingga konsumsi asam folat secara rutin. Persiapan Psikologis (Mental): Membangun kesiapan emosional melalui manajemen stres dan konseling pranikah untuk menghadapi perubahan besar sebagai orang tua.
Persiapan Sosial (Sosio-ekonomi): Menciptakan lingkungan yang kondusif, seperti jaminan dukungan pasangan, perencanaan finansial, serta lingkungan yang bebas polusi dan asap rokok. Lebih lanjut, skrining pranikah disebut sebagai “Window of Opportunity”. Melalui deteksi dini ini, pasangan dapat melakukan pencegahan komplikasi kehamilan sedini mungkin.
“Mempersiapkan generasi unggul dimulai dari pasangan yang sehat. Prekonsepsi sehat, masa depan anak hebat,” pesannya memotivasi para peserta. Dengan terselenggaranya kuliah pakar ini, Program Studi S1 Kebidanan UNISA Palembang berharap dapat membekali para calon bidan agar kelak tidak hanya handal secara klinis, tetapi juga mampu menjadi edukator dan agen perubahan di tengah masyarakat, khususnya dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Kota Palembang. (Red)
